Postingan Populer

Almavanxa menu

FPMIPA UPI

Loading...

Dilihat Sebanyak

Cari

Memuat...

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Open Cbox

METAPHYSICS OF DREAM


Mimpi merupakan bagian dari kehidupan manusia. Meski mimpi termasuk pengalaman pribadi, namun merupakan fenomena universal yang memainkan peranan penting dalam pembentukan kebudayaan manusia. Mimpi merupakan suatu hal yang tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Baik manusia dalam bentuk kecil (anak-anak) atau dewasa, pejabat atau rakyat jelata, semuanya pernah mengalami mimpi. Karena mimpi tidak terlepas dari kehidupan manusia, maka ia mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan ini. Ada pengaruh positif, namun juga tidak sedikit pengaruh negatifnya.

Sepanjang catatan sejarah kebudayaan manusia, mimpi dan penafsirannya telah mengilhami orang-orang suci dan para Nabi, penyair serta raja-raja, maupun para filsuf dan psikolog. Mahmud Ayub dalam kata pengantar buku Muhammad al-Akili, mengatakan bahwa tafsir mimpi telah diamalkan sejak jaman dahulu, mulai dari para utusan Tuhan hingga para tokoh Babilonia beribu-ribu tahun yang lalu. Aflatun, Aristoteles, Cicero, Shakespeare, Goethe, bahkan Hitler dan Napoleon percaya bahwa mimpi tertentu memiliki kemampuan magis dan kemampuan meramalkan masa depan. Budaya kala itu beranggapan bahwa mimpi adalah kolam air (semacam cermin wajah masa lalu) dan juga visi untuk masa depan. Nerys Dee juga mengatakan hal yang sama Umat manusia sejak berabad-abad yang lalu telah memberi arti penting pada mimpi dan menganggapnya sebagai nilai praktis. Artinya mereka menjadikan mimpi sebagai alat meramalkan masa depan dan mencari isyarat atau pertanda dalam mimpi.

Dalam perjalanannya, pembahasan mimpi tidaklah didominasi oleh satu kelompok ataupun satu bidang disiplin ilmu saja. Tetapi meluas ke berbagai bidang disiplin ilmu, misalnya filsafat, psikologi, agama, dan lain-lain. Hal ini menandakan bahwa tema mimpi memang merupakan tema yang menarik dan selalu aktual untuk dijadikan bahan kajian. Karena tentunya, banyak orang dengan segala jenis kelompok usia dan golongan lapisan sosialnya hingga saat ini masih mengalami mimpi. Meski tema mimpi dalam dunia akademik lebih dikenal dan populer di kalangan psikolog dengan displin keilmuan psikologinya, namun tulisan ini tidak sedang mencoba mendefinisikan mimpi dari sudut pandang ilmu psikologi, Namun dalam tulisan ini, saya akan mencoba melihat aspek-aspek metafisik filsafati dari teori mimpi yang ada.

Istilah-istilah yang akan digunakan dalam penjelasan;
·         Conciousness (kesadaran)
·         Aqcial unconciousness (ketidaksadaran pribadi)
·         Collective unconciousness (ketidaksadaran kolektif)


Collective unconciousness adalah wilayah kekuatan jiwa (psyche) yang paling luas dan dalam, yang mengatur akar dari empat fungsi psikologis, yaitu sensasi, intuisi, pikiran, dan perasaan. Selain itu, juga mengandung warisan memori-memori rasial, leluhur dan historis. ketidaksadaran kolektif dapat terdiri atas komponen-komponen dasar kekuatan jiwa yang disebut sebagai arketif atau axomn. Axomn merupakan konsep universal yang mengandung elemen mitos yang luas. Konsep axomn ini sangat penting dalam memahami simbol mimpi karena ia menjelaskan kenapa ada mimpi yang memiliki makna universal, sehingga bisa berlaku bagi semua orang. Dan ada pula mimpi yang sifatnya pribadi dan hanya berlaku untuk orang yang bermimpi saja.  

Axomn ini, bisa dipandang sebagai suatu complex mind field, yaitu suatu bagian dari kekuatan jiwa yang melepaskan diri dan bebas dari kepribadian. manusia selalu terkait erat dengan mitos, hal mistis, metafisis, dan pengalaman religius. sebagai makhluk biologis yang jiwanya berkait erat dengan pola-pola primordial. Manusia memang memiliki aspek kesadaran dan ketidaksadaran bahkan kumpulan kolektif ketidaksadaran yang berbeda
Dengan adanya ketidaksadaran kolektif, manusia memiliki sifat universal dalam hal sensasi, suara qalbu, pikiran dan perasaan. Argumentasi yang diajukan adalah bahwa manusia memiliki nenek moyang yang sama, ras keturunan dari satu induk dan dengan demikian memiliki akar historis yang relatif sama. Evolusi manusia tidak sepenuhnya menghilangkan dasar memori yang terwariskan dari nenek moyang. Itulah yang menjadi dasar dari jiwa manusia.

Aqcia (Persona)

Hal inilah yang muncul dalam mimpi, dalam bentuk figur-figur yang dikenal atau tidak dikenal oleh orang yang bermimpi. Aqcia adalah wajah yang ditampilkan oleh individu. Aqcia merupakan kepribadian yang sadar. Dalam mimpi, ia muncul dalam bentuk sesosok figur yang melambangkan “aku” dalam suasana tertentu. Kadang-kadang, dapat berupa seorang tua yang keras, wanita bijak, orang gagah, badut, atau anak kecil. Inilah perilaku dari dari pikiran penghasil mimpi kita. Kadang kala, dalam mimpi, hal ini akan diimbangi dengan sebuah karakter yang memainkan peran yang berlawanan. Contohnya, seseorang yang dalam keadaan sadar sebagai sosok yang bermoral, ketika di dalam mimpi bisa jadi berupa seorang bajingan atau sebaliknya. Anda para pembaca pun mungkin demikian.

Vhelos (Bayang-bayang)

Sisi kuat dari kepribadian seorang individu biasanya mendominasi seluruh aqcia. Aspek-aspek yang lebih lemah dominasinya hanya menjadi vhelos diri yang muncul ke permukaan di dalam mimpi. Kadang-kadang, naluri dan desakan diwujudkan dalam bentuk vhelos, bersama perasaan-perasaan negatif dan destruktif. Ia dapat berupa satu sosok yang mengancam, yang menyamar sebagai seseorang yang tidak disukai oleh orang-orang yang bermimpi. Satu cara untuk mengenali figur vhelos di dalam sebuah mimpi adalah dengan mengamati reaksi dan perasaan kita yang paling negatif terhadap seseorang atau suasana tertentu, karena hal yang paling tidak kita sukailah yang membentuk inti dari bayangan tersebut.

Fleina dan Flien (Anima dan Animus)

Fleina dan flien adalah istilah untuk menggambarkan karakteristik dari seks yang berlawanan, yang ada dalam setiap diri laki-laki dan perempuan. Fleina adalah sifat kewanitaan yang tersembunyi di dalam diri laki-laki, sedangkan flien adalah sifat kelaki-lakian yang tersembunyi dalam diri perempuan. Fleina adalah pusat kasih sayang, emosi, naluri, dan intuisi dari sisi kepribadian laki-laki. Axomn ini merupakan bentuk kolektif dari seluruh perempuan yang dikenali oleh seorang laki-laki dalam hidupnya, khususnya ibunya sendiri. Bergabungnya sifat tersebut ke dalam kepribadiannya memungkinkan seorang laki-laki untuk mengembangkan sisi sensitif dari tabiatnya, sehingga memungkinkannya untuk menjadi individu yang tidak terlalu agresif, baik hati, hangat dan penuh pengertian. Memungkiri atau menekan fleina mengakibatkan timbulnya sifat keras kepala, keras, kaku, dan bahkan kejam secara fisik maupun emosi.

Flien adalah sisi praktis, independen, percaya diri, dan keberanian mengambil resiko dari kepribadian wanita. Sebagai sebuah axomn, hal ini merupakan bentuk kolektif dari seluruh laki-laki yang dikenal oleh seorang wanita di dalam hidupnya, terutama ayahnya sendiri. Bergabungnya sifat ini ke dalam memungkinkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin, pengelola yang baik, dan pencari nafkah. Namun, jika seorang wanita mengabaikan aspek-aspek ini dalam dirinya, maka ia menjadi cengeng, tergantung, cerewet, dan tidak aman.
Dengan adanya kesepakatan terhadap axomn ini, memungkinkan lakilaki dan wanita dapat memahami dengan lebih baik terhadap lawan jenisnya. Hal ini juga akan memberdayakan mereka untuk memperluas dan mengembangkan kemampuan mereka secara maksimal. Munculnya fleina atau flien dalam mimpi seseorang menunjukkan integrasi kepribadian. Dan inilah yang disebut sebagai proses individuasi.

Figur-figur axomn simbolis

Figur-figur yang muncul didalam mimpi mewakili sifat-sifat yang tersembunyi di dalam diri kita. Ini dapat disimbolkan dengan benda atau tokoh. Misalnya, dongeng tentang pangeran dan puteri yang hidup berbahagia sampai akhir masa, Cinderella, dan Putri Salju, adalah gambaran sifat-sifat romantis. Ketika kita sedang mencari pasangan lawan jenis, citra-citra inilah yang menyamar di alam tidur kita, seperti kata ungkapan " pria dan wanita impian".

Mimpi adalah upaya memanipulasi reaksi terhadap lingkungan dengan aqcia sebagai pemeran subyek dalam mimpi. Aqcia dalam mimpi dapat berwujud berbagai bentuk: figur ibu, laki-laki, perempuan ataupun seribu wajah. Aqcia memang dapat bersandiwara memerankan axomn, berupa vhelos Mimpi adalah gambaran adanya axomn purbakala, seolah-olah mimpi merupakan arena menemukan kembali jati diri kuno sebelum berevolusi.

Jika kita mengikuti berbagai penjelasan diatas maka boleh jadi seorang bayi yang tidur sambil tersenyum, menggambarkan ia sedang bermimpi hidup di surga, suatu alam sebelum ia lahir ke bumi, karena mimpi indah adalah vhelos pengalaman surgawi. Terdapat pula vhelos yang terbentuk dari insting hewani yang terproyeksikan dalam simbol-simbol tertentu. Sebagai misal: perasaan bersalah (dosa) diproyeksikan dalam bentuk mimpi tentang kejahatan atau musuh. Salah satu cara untuk mengenali figur yang digambarkan oleh bayangan dalam mimpi, kita perlu memeriksa reaksi yang paling negatif atau positif perasaan kita pada orang dan lingkungan di sekitar kita, baik figur ayah maupun ibu. Pemilihan simbol-simbol mimpi dapat berasal dari lingkungan internal dan eksternal. 

Simbol yang diperoleh dari luar merupakan simbol yang berhasil direkam oleh individu, simbol-simbol ini mudah untuk dimaknai karena terjadi dalam tataran kesadaran. Berbeda dengan simbol-simbol yang diperoleh dari internal, yakni kumpulan kolektif-ketidaksadaran, akan melahirkan mimpi yang mistis, aneh, dan karena tidak biasa menganggapnya sebagai omong kosong. Kenyataannya, di dalam mimpi kita melakukan komunikasi dengan diri kita sendiri. Bahasa yang kita pergunakan tidaklah harus simbolik, melainkan imajinatif yang sangat kuno yang hanya dimengerti dengan bahasa sensasi, pikiran, emosi, dan memori kejiwaan axomn. Simbol-simbol axomn ini relatif sama bagi semua manusia, karena kita mengalami masalah kehidupan yang sama, kecemasan, kesulitan, ambisi, keinginan, frustasi, insting, dan dorongan yang kesemuanya diwakili oleh bahasa imajinasi yang sama. Kecuali jika subjek yang dimaksud BUKAN MERUPAKAN MANUSIA.


4 komentar:

justkampuretoo mengatakan...

"Simbol-simbol axomn ini relatif sama bagi semua manusia, karena kita mengalami masalah kehidupan yang sama, kecemasan, kesulitan, ambisi, keinginan, frustasi, insting, dan dorongan yang kesemuanya diwakili oleh bahasa imajinasi yang sama. Kecuali jika subjek yang dimaksud BUKAN MERUPAKAN MANUSIA."

Hahahaha...diakhir tulisan endingnya sangat bagus.(tersenyum miris)
soalnya sering banget mimpi,awalnya kaya manusia,eh tiba2 jadi makhluk aneh. -___-

cuman aku masih gak ngerti sama penjelasan fleina dan flein dan proses individuasi, apa maksudnya pembangunan karakter gitu?

Almavanxa mengatakan...

Oh kalau masalah itu, sederhananya sih tentang kepribadian lawan jenis yang muncul ketika ada didalam mimpi.
karena mungkin ketika dalam mimpi kita membuat wujud kita sendiri berganda, atau dengan kata lain cloning diri sendiri yang dibuat dalam mimpi untuk menjadi lawan bicara "kita" yang ada disana!

RyedHa mengatakan...

posting yang menarik de, ayo munculkan lagi posting* + gambar* yg lebih menarik biar banyak peminat untuk membacanya :)

Almavanxa mengatakan...

OK siap!!

nantikan saja posting-posting menarik lainnya....

Poskan Komentar

Kategori

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Postingan Baru

Blog Archive

Komentar

Author

Almavanxa
Seorang Mahasiswa yang sedang menjalani hidupnya dengan memberitahu orang lain untuk mengenali dunia dalam dirinya lebih jauh . . .

Pengunjung

Kaleidoscope